Jumat, 25 Juli 2014

Hujan, Aku dan Kamu.

Hujan subuh ini kunikmati untuk mengenang saat pertama kita hujan hujan didepan Grand City Mall

Siang itu adalah date kita yang 2, aku bertanya padamu kita akan kemana namun kamu menjawab terserah padaku (and it's happens till now), akhirnya kamu berkata memilih taman prestasi karena tempat itu sejuk.

Hari selasapun tiba, saat melihatmu kembali dirumahku rasa canggungmu saat bertemu dengan mamaku sudah sedikit berkurang. Seperti yang sudah direncanakan kita pergi menuju taman prestasi hari itu. It was funied, feels like go back to childhood. Aku duduk di ayunan bersebelahan denganmu, kamu mengeluarkan satu buah kacang bungkus besar dan kamu berkata itu untukku dan kamu yang membuatnya, maybe it's juat a little gift but i'm happy cause you make it by yourself. Kamu menitipkan tas polomu kepadaku dab berjalan menuju pagar pembatas taman untuk membeli sebuah es cincau, saat kamu membelakangiku aku melihat punggungmu dari jauh, punggung yang sama saat aku lihat pertama kali di Pembinaan Pataga, Pacet, Oktober 2013, perbedaannya adalah saat itu aku hanya dapat melihatmu dari jauh seperti ini dan sekarang aku bisa menggenggam tanganmu dan dengan bangga mengatakan pada dunia kamu milikku.

Hari semakin sore, kita memutuskan untuk kembali berjalan jalan namun sayang, saat melintasi merr menuju kertajaya hujan mulai turun membasahi bumi, kamupun meminggirkan kendaraan ditepi trotoar, membuka jok sepeda motormu dan memberikan sebuah jas hujan abu abu yang menurutku kecil sekali namun sekarang longgar jika kupakai, setelah itu di jalan kertajaya kamu kembali menepikan motormu, kamu berkata "celanaku basah", kamu menggulung bagian bawah celana jeans levismu yang sedikit keluar dari celana jas hujan setelah selesai kamu melihatku dan bertanya "kamu gapapa? ada yang basah? mau ganti sendal biat sepatumu gak rusak?" dan aku menjawab dengan simple "aku gapapa" walaupun sebenarnya bagian bawah bajuku agak basah karena terkena hujan.

Kita berputar putar dibawah hujan sore itu sampai akhirnya kita memutuskan singgah sejenak menunggu hujan redah di Grand City Mall, kita memandangi hujan dari Lt. 5 foodcourt, kita menghabiskan waktu 3 jam disana dengan mengobrol dan melihat surabaya sore menjelang malam dengan diselimuti awan abu abu sebagai pemandangan.

Dari kaca itu terlihat hujan sudah redah, namun ternyata aku salah, gerimis kecil masih mengguyur kota ini. Kamu berkata untuk memakai jas hujan kembali, aku bersikukuh untuk tetap tidak menggunakan jas hujan karena hanya gerimis. Ditengah jalan aku berkata jika hawa Surabaya malam itu dingin, tiba tiba kamu menepikan sepeda motormu kembali, aku sudah menyiapkan muka manyun jika kamu menyuruhku turun kemudian menyuruhku juga untuk memakai jas hujan tapi aku salah, dengan cepan kamu membalikkan jaketmu sehingga resliting depanmu sekarang berada dibelakang. Kamu berkata "masukkan tanganmu dijaket, supaya tidak kedinginan".

Hari itu hujan menjadi saksi, sepasang anak manusia yang sedang kasmaran berbasah basah ria dibawahmu dan menjadi saksi bagaimana priaku yang cuek dan terlihat seperti anak anak ternyata peduli dan romantis, bukan dia bukan tipikel pria yang suka mengumbar kata kata romantis dan janji janji manis, sangat bukan dia sekali namun dia adalah pria romantisku yang dapat membuktikan dari tindakan bukan hanya omongan.

7/8314

Selasa, 24 Juni 2014

What If Love #1

"Nobody said it was easy. It's such a shame for us to part.
Nobody said it was easy .No one ever said it would be this hard.
Take me back to the start"

Lagu Coldplay - The Scientist berulang - ulang terputar dalam mp3 Marshall, ya sekarang memang dia sedang berdoa agar semuanya kembali seperti semula, kembali pada saat satu minggu yang lalu, saat dia masi bisa menggenggam tangan wanita itu, tangan yang selalu bisa menenangkan hati dan pikirannya saat Marshall menggenggamnya.

Suasana Kota Surabaya sore itu terik disinari matahari, jam masi menunjukkan pukul 3.30pm dan suasana Lapangan Basket Villa Bukit Mas masi terlihat senggang, hanya terlihat sesosok laki - laki berpakaian singlet duduk di pinggir lapangan sambil menyeka peluh yang menuruni dahinya. Laki - laki terlihat muram, raut mukanya yang biasanya ceria dalam beberapa minggu belakangan ini nampak biru setelah dia pulang dari Mt. Semeru. Dia yang sesungguhnya sudah menyiapkan semuanya dengan indah ternyata bukan pulang dengan membawa kabar bahagia melainkan pulang dengan membawa buah tangan berupa beberapa jahitan di dagunya. Ironis memang.

"Woiii", Ryan berteriak tepat dibelakang telinga Marshall, sukses membuat laki - laki itu terkaget dan menyumpahinya.
"Kampret lo Yan", Dipukulnya Ryan dengan menggunakan handuk bekasnya mengusap peluh
"Haish, lo kalau mukul pake yang bagus dikit napa Shall. Baju gue bau keringet lo nih sekarang. Rese' lo", Ryan mulai memasang muka marah dan Marshall hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya satu ini.
"Jadi ke Siloam?", Tanya Ryan yang reflek membuat Marshall kembali murung.
"Jadi, Ayo sekarang, Mau?", Cowok ganteng itu berdiri sambil mengemasi sepatu basket dan botol minumnya. "Mobil lo dimana?", Tanyanya lagi.
"Tuh, Disitu", Ryan menujuk kepada sebuah mobil Honda Jazz putih yang terpakir tidak jauh dari lapangan tempat mereka berada sekarang.

Selama perjalanan itu tidak ada sepata katapun yang terucap dari keduanya sampai akhirnya Ryan membuka percakapan.

"Lo masih sayang Dea setelah apa yang dia lakuin sama lo?. Gue masih gak nyangka Dea bisa sejahat itu sama lo", Ryan bertanya sekaligus menyatakan opininya.
"Entahlah, gue masi bingung dengan semua ini", Ucap Marshall sambil memengang dahinya yang terasa nyeri kembali.