Rabu, 12 Juni 2013

The Man Who Should be Moved

Bergalau ria yuk, hari ini gue lagi mood buat nulis cerita yang agak-galau. Check this story :)

(Foto poster Cinta Tapi Beda)
Pernah gak kalian menyayangi seseorang dengan sepenuh hati tapi ternyata pada akhirnya kalian gak akan pernah bisa bersama?. Yap Dea pernah ngersain itu. Keadaan memaksanya untuk merelakan hubungan yang  sudah terjalin selama setahun lebih untuk dia akhiri dengan kerelaan. Bukan karena Marshal menghianatinya, tapi takdir yang harus memisahkan mereka. Dea memang berbeda dengan Marshall, dari segala sisi memang berbeda. Dari segi keluarga, kepercayaan, hingga suku. Tapi berkat sikap mereka yang bisa saling menerima satu sama lain, perbedaan itu menjadi indah dimata mereka.

Mereka berdua bertemu disebuah pertandingan basket pelajar tingkat provinsi, yang tengah berlangsung pada saat Juli tahun 2011. Beruntungnya mereka sejak saat pertama kali bertemu, mereka berdua langsung bisa membuat sebuah percakapan yang membuat lupa waktu. Marshall yang seorang pemain basket dan pianist membuat Dea jatuh cinta seketika saat Marshall mengajarkannya dengan sabar bagaimana cara bermain piano. Hari - hari mereka lewati berdua, walaupun mereka tidak sekota tapi Marshall selalu punya waktu pada akhir pekan untuk Dea, begitu juga sebaliknya. Sebuah coffee corner menjadi saksi dari pernyataan cinta Marshall kepada Dea. Iya hari itu 18 Desember 2011, hari yang tidak mungkin terhapus dari ingatan mereka. Semakin hari kekuatan cinta mereka semakin besar, tetapi seperti pasangan lainnya ada saja penghalang yang membuat mereka tidak akan bersatu yaitu Perbedaan Agama. Marshall seorang Khatolik yang taat, sedangkan Dea adalah seorang Muslim.

Sekarang sudah tahun 2013, cerita itu sudah menjadi kenangan manis bagi mereka walaupun mereka sudah tidak bersama. Mereka menyadari bahwa ini akan lebih indah jika mereka menjadi sahabat. Tapi apakah mungkin seseorang yang dulu pernah dicintai dengan ikhlas merelakan persaannya? jawabannya adalah tidak. Sampai sekarang api cinta itu masih ada, sampai sekarang perasaan sayang mereka tidak pernah terhapuskan, sampai sekarang perhatian merekapun tetap sama seperti dahulu.

Walaupun Dea hanya bisa melihat senyum manis Marshall tanpa bisa menyentuhnya seperti dahulu, dia tetap bahagia. Bagaimanapun juga Dea dulu pernah menjadi alasan dibalik setiap senyum Marshall :)

Tuhan selalu punya cara untuk membahagiakan umatnya, walaupun sekalipun mereka tidak bisa bersama pada akhirnya. Tapi akhirnya mereka bersyukur karena mereka bisa belajar bagaimana arti menghargai perbedaan yang sesungguhnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar