Kamis, 13 Juni 2013

Too Young to Live, Too Fast to Die

Bukan, gue buat judulnya kayak begini bukan karena besok tanggal 15 pengen liat konsernya G-Dragon di Meis, bukan *kemudian dilempar*. Gue menulis post gue kali ini dengan mendengarkan lagu Mind Trick-nya Jamie Cullum dan menunggu waktu akan menonton premier film cinta dalam kardus. Oke dari pada ngelantur mending langsung ke intinya.

Percaya cinta pandangan pertama? Gue sih enggak. Kenapa? Karena menurut gue cinta pandangan pertama itu lebih identik dengan kagum, bukan cinta. Kalau lo cinta pada pandangan pertama itu artinya lo cuma “judge by cover” tanpa tau seperti apa dia aslinya. Kebanyakan cinta yang aslinya cuma “admire” itu berujungnya gak enak. Yap, too young to live and the end of story is too fast to die.
Kasus seperti itu banyak gue temuin di lingkungan gue, lingkungan pertemanan maksudnya. Gue punya banyak teman yang gampang banget buat jatuh cinta dan akan memutuskan pacarnya tidak lama kemudian. Lo tau kenapa alasannya? “Gue udah bosen, dia gak seperti yang gue kenal di awal” tapi disaat dia jomblo *maaf single maksut saya* dia akan setengah mati untuk mencari pacar. Nah loh nih anak sebenernya beres gak sih? Disaat ada pacar dia bilang bosen tapi saat gak punya pacar dia bilang juga bosen -_- Go to hell please J.

Kasus lainnya gue punya seorang teman yang sampai beberapa bulan sampai acara sweetnya dia gak pernah punya pacar, sebut saja namanya Vene. Anak ini sangat meyeleksi calon gebetan yang akan di jadikannya sebagai pendamping. Kalau gue hitung sebelum sama pacar pertamanya yang ini, calon gebetannya dia banyak (banyak yang suka sama dia) tapi akhirnya tumbang ditengah jalan dan lo tau berapa calon gebetannya itu? Kira – kira ada 8 tapi ditolak semua teman. Saat gue tanya sama dia “lo kenapa kok gak ada yang lo terima?”, dia jawab dengan singkat “perasaan gak bisa dipaksa”. Iya juga sih, sekeren, sepinter, atau sekaya apapun lo tapi kalau urusannya sama perasaan gak ada yang bisa ngebeli itu semua. Perasaan itu lahir dengan “pure” dari diri kita masing – masing. Tapi sekarang dia udah punya pacar kok, hahaha finally yah :p.

Dari sekian banyak dari masa lalu gebetannya Vene dulu, gue cukup tersentuh oleh salah seorang yang sangat berusaha untuk mendekatinya, sebut saja namanya Marshall. Si Marshall ini menurut gue seneng banget sama Vene, tapi seperti yang lainnya dia hanya menjadi mantan-calon-gebetan. Dia itu tulus menurut gue, coba bayangin saat Vene menyuruhnya datang menemuinya di suatu acara dia bela-belain datang padahal dia saat itu sedang sakit. Yap, tapi balik lagi perasaan gak bisa dipaksain.


Pesan gue dari apa yang uda gue tulis kali ini adalah jangan pernah menyukai seseorang cuma dari tampang, penampilan, kendaraan, kepintaran ataupun dari kekayaan. Semua itu gak bakal abadi, coba bayangin lo suka sama seseorang cuma karena dia cantik/ganteng dan disaat pasangan lo sudah gak secantik dulu apa lo masih mau menerimanya? Jawabannya adalah gak. Jadilah seperti Vene, bukan jual mahal tapi dia hanya akan mau menerima seseorang yang benar-benar dia sukai dari hati, bukan karena embel-embel yang melekat pada pasangannya dan sampai esok dia akan menerimanya karena itu pilihannya dari hati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar